Senin, 10 Desember 2007 | Berlangganan Majalah TRUST
Mengincar Rezeki di Pulau Dewata
Pengembang asal Surabaya berencana membangun apartemen dan vila terpadu senilai Rp 250 miliar di kawasan Nusa Dua, Bali. Langkah ini terbilang nekat mengingat kondisi pariwisata di pulau tersebut belum pulih benar.
Febry Mahimza dan Dery Landhika
Trauma bom bali memang tak mudah dilupakan. Itu pula yang membuat bisnis pariwisata di bali belum kembali seperti sedia kala. Namun, pesona pulau dewata tetap saja mampu memikat investor untuk menanamkan duitnya di sana. Salah satu investor yang terbilang â€nekat†itu adalah pt bali regency twentyone. Pengembang asal surabaya yang merupakan anak perusahaan dari pt property 21 group ini berencana membangun swiss-belhotel bay view. Itu adalah proyek apartemen dan vila terpadu di tepi tebing kawasan pantai nusa dua, bali.
Bisa dibilang, inilah proyek properti terbesar setelah tragedi bom Bali dua tahun lalu. Tak kurang dana sebesar Rp 250 miliar telah disiapkan PT Bali Regency sebagai investasi awal untuk membangun sekitar 78 unit apartemen dan 43 vila di lahan seluas 3,5 hektare ini.
Artikel Lain
Ikhtiar Menuai Fulus di Talent Box
Mengail Berkah dari Rumah Mungil
Hap... Cecak pun Menangkap Fulus
Berharap Menjaring Devisa dari Si Nila
Mengincar Rezeki di Pulau Dewata
Musim Panen Golf Tiba
Untung Besar dari Bisnis Sampingan
Manisnya Berbisnis Strawberry
Kedelai Jumbo di Pasar Jepang
Kusen Cor yang Ngetren
Menurut Roy Sindhunirmala, Presdir PT Property 21 Group, inilah saat yang tepat untuk membangun apartemen dan vila di Bali. Pasalnya, dari riset yang ia lakukan diketahui bahwa tingkat hunian hotel bintang empat dan lima di kawasan Nusa Dua selalu di atas 60%. Selain itu, hingga kini belum ada pengembang yang membangun apartemen dan vila di kawasan Pantai Nusa Dua. Ia optimistis, Swiss-Belhotel ini akan menjadi tujuan utama wisatawan asing dan domestik yang ingin berlibur ke surga wisatawan tersebut.
Selain berlokasi di tempat yang strategis, Swiss-Belhotel ini memiliki pemandangan yang indah. Dari apartemen ini, penghuni bisa melihat pemandangan ke Teluk Benoa dan Pantai Nusa Dua dari jarak yang relatif dekat. Bahkan, panorama Gunung Agung dan Pulau Nusa Penida juga bisa terlihat dari jarak yang tidak terlalu jauh. Lokasinya yang terletak di tepi tebing juga memberikan suasana yang berbeda dibanding resor dan hotel lain yang biasanya langsung bersebelahan dengan pinggir pantai.
Sejumlah fasilitas yang ditawarkan apartemen ini juga memiliki kualitas laiknya hotel bintang lima. Mulai dari business center, swimming pool, spa, fitness center, hingga dining restaurant lokal dan internasional. Semua itu dikelola oleh Swiss-Belhotel International, perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan hotel berjaringan internasional. Di Indonesia, perusahaan ini juga mengelola Hotel Ciputra Jakarta dan sejumlah hotel lainnya.
Apartemen dan vila ini dibuat dengan konsep minimalis modern dengan tetap memberikan sentuhan khas Bali di setiap unitnya. Untuk apartemen, akan dibangun tipe dua kamar tidur, tiga kamar tidur, dan suite room. Harga termurah Rp 1,3 miliar atau sekitar Rp 9 juta per meter persegi. Sementara itu, 43 unit vilanya akan dibangun dalam dua ukuran: 237 dan 887 meter persegi. Unit termurah dibanderol Rp 1,9 miliar. Mahal? Tidak juga. Sebab, separuh lebih dari vila tersebut juga akan dilengkapi dengan private swimming pool.
Roy menambahkan, ke-78 unit apartemen tersebut bisa dimiliki dengan status strata title. Sementara itu, 43 unit vilanya bisa dimiliki dengan status hak milik. Lantas, investor yang berminat juga diberi sejumlah kemudahan. Contohnya, investor cukup menyetor uang muka sebesar 30%-50%, yang bisa dicicil maksimum lima kali. Sisanya, bisa dicicil melalui fasilitas KPR/ KPA yang disalurkan perbankan. Bahkan, jika proyek yang pemasangan tiang pancangnya akan dilakukan pada September ini bisa selesai sesuai dengan jadwal, yakni pada Mei 2006, sisa cicilan tersebut bisa ditutup dari hasil investasi yang ditawarkan pengembang dan pengelola apartemen itu. Artinya, â€Investor tak perlu lagi harus menyiapkan uang untuk melunasi kekurangannya,†papar Roy.
Kok bisa begitu? Roy menjelaskan, kendati investor telah membeli apartemen dan vila tersebut, sesuai dengan kontrak, pengelolaannya akan diserahkan kepada Swiss-Belhotel International dengan masa kontrak selama 10 tahun. Dan itu bisa diperpanjang sesuai dengan keinginan pemilik apartemen. Nah, pengelola inilah yang selanjutnya akan mengembalikan investasi tersebut. Roy menjamin, konsep pengelolaan ini dapat memberikan keuntungan yang lumayan gede buat pemilik apartemen dan vila tersebut.
PASTI DAPAT BAGIAN KEUNTUNGAN
Sebagai iming-iming bagi investor, Roy menjanjikan tingkat pengembalian investasi yang lumayan menggiurkan. Lihat saja, kendati apartemen ini masih dalam proses pembangunan dan baru beroperasi, selama dua tahun pertama, investor akan mendapat fix income sebesar 9% dari harga apartemen ditambah PPN. Singkat kata, â€Investor atau pemilik apartemen dapat langsung menikmati hasil investasinya di proyek ini,†ujarnya berpromosi.
Tak hanya itu. Pemilik apartemen juga akan dibebaskan dari semua biaya yang dikenakan oleh pengelola apartemen. Mulai dari biaya service charge seperti listrik, kebersihan, air, sampai biaya pemeliharaan, yang jika dihitung jumlahnya bisa mencapai 50% dari nilai investasi dalam masa 10 tahun. â€Semua akan ditanggung oleh pengelola apartemen ini,†kata Roy.
Lebih dari itu, ada atau tidak ada penyewa yang akan menghuni apartemen tersebut, investor tetap mendapat bagian dari keuntungan pengelolaan yang dilakukan Swiss-Belhotel International. Besarnya bagi hasil tersebut tergantung dari persentase kepemilikan investor. â€Investor yang hanya memiliki satu unit apartemen tentu saja mendapat share yang berbeda dengan yang memiliki lebih dari itu,†kata Roy menambahkan. Sehingga, dengan asumsi tingkat hunian awal sekitar 30%, ditaksir titik impas akan tercapai hanya dalam lima tahun saja.
Menurut Tony Eddy, Direktur PT Century 21 Casabanca, broker properti yang turut digandeng untuk memasarkan apartemen dan vila ini, hal itu sangat mungkin terjadi. Sebab, berdasarkan analisis proyeksi cash flow yang dilakukan pengembang, nilai investasi yang bisa dinikmati investor dalam 10 tahun akan mencapai 300%. Selain sejumlah skema bagi hasil itu, Tony menaksir nilai apartemen dan vila tersebut akan meningkat tiga kali lipat pada kurun waktu tersebut.
Daya tarik lain yang ditawarkan pengelola apartemen ini kepada investor adalah voucher menginap dan menggunakan fasilitas apartemen gratis selama 14 hari. Jika ingin bermalam lebih lama, â€Investor hanya akan dikenakan tarif diskon 50% pada 14 hari berikutnya,†paparnya.
Begitulah, sepintas semua yang ditawarkan pengembang dan pengelola apartemen ini lumayan menggiurkan. Namun, jika pengembang ataupun investor apartemen tidak hati-hati, boleh jadi ini merupakan blunder. Sebab, industri pariwisata di Bali belum sepenuhnya pulih. Apalagi, di kawasan tersebut saat ini sudah bertebaran sejumlah hotel serta resor kelas atas yang lokasinya sangat berdekatan seperti Nikko Bali Resort, Bali Golf & Country Club, Sheraton Nusa Indah, dan Nusa Dua Beach.
Panangian Simanungkalit, pengamat properti dari Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) menyatakan, industri pariwisata di Bali sangat tergantung pada kondisi keamanan di Indonesia pada umumnya. Nah, terkait dengan iming-iming return sebesar 300% pada 10 tahun mendatang, â€Ini jelas merupakan promosi yang spekulatif. Kita tidak tahu bagaimana bisnis pariwisata di pulau itu,†paparnya.
Property/46/2004
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
Edisi 06 Tahun VI
3 - 9 Desember 2007
www.mnc.co.id
Copyright © 2002-2004 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by ProWeb APDesign
Tidak ada komentar:
Posting Komentar